MIMIKA BARU – Distrik Mimika Baru menyalurkan bantuan kebutuhan dasar kepada warga asal Jila yang saat ini mengungsi dan tinggal sementara di wilayah RT 21, Kelurahan Kwamki Baru.
Bantuan diberikan setelah Distrik Mimika Baru melakukan pendekatan dan melihat langsung kondisi warga di lokasi. Selain bantuan berupa bahan kebutuhan pokok, kegiatan juga diisi dengan pembagian masker, doa bersama para pendeta dan pendoa, serta dialog langsung bersama masyarakat.
Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, S.STP, mengatakan kehadiran jajaran distrik bukan semata-mata untuk menyerahkan bantuan, tetapi untuk mendengar dan memahami kondisi masyarakat yang terdampak.
“Yang paling penting bagi kami adalah hadir dulu, duduk bersama dan mendengar. Mereka berada di sini karena situasi yang mereka hadapi, sehingga pendekatan kita harus tetap humanis. Bantuan yang kami bawa mungkin sederhana, tetapi kami berharap dapat sedikit membantu kebutuhan mereka,” ujar Merlyn.
Dalam dialog tersebut, Distrik Mimika Baru juga memperoleh informasi langsung mengenai kondisi tempat tinggal sementara, kebutuhan keluarga serta situasi yang dialami warga sejak meninggalkan tempat sebelumnya.
Merlyn menegaskan, warga yang mengungsi perlu diperlakukan dengan tetap menjaga martabat, rasa aman dan privasi mereka. Karena itu, pendekatan dilakukan secara bertahap dan tidak semata-mata berorientasi pada pemeriksaan administrasi.
“Kita ingin membangun kepercayaan. Setelah itu barulah kita bisa memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai berapa jumlah warga, kondisi keluarga, kelompok rentan dan kebutuhan yang benar-benar harus ditindaklanjuti,” jelasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Lurah Kwamki Baru, Sekretaris Distrik Mimika Baru, Kasie Trantib, Babinsa Koramil Timika, para pendeta dan para pendoa.
Distrik Mimika Baru selanjutnya akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau kondisi warga sekaligus memperoleh data faktual mengenai masyarakat yang berpindah akibat situasi konflik.
Menurut Merlyn, penanganan persoalan seperti ini tidak cukup dilakukan setelah terjadi keadaan darurat. Informasi dari tingkat RT dan kelurahan diperlukan agar pergerakan warga terdampak dan kebutuhan mereka dapat diketahui lebih awal dan menjadi bahan koordinasi dengan perangkat daerah maupun instansi terkait.
“Tidak semua persoalan dapat selesai dalam satu kunjungan. Tetapi kita bisa memulainya dengan hadir, mendengar dan mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dari situ kita menentukan apa yang perlu dilakukan selanjutnya,” tutup Merlyn.
MIRU BERGEMA — Suara Masyarakat, Kerja Nyata.










